Half-Day in Batu : Liat Bunga Ditengah Wajah Bete Para Lelaki

May 08, 2018

Modifikasi dari : Siap Liburan
Cahaya mentari sudah mulai memudar kala dua motor kami membelah Jalan Ahmad Yani Surabaya. Aku dan Bayu dengan motor beat merahku, serta Ana dan Huda dengan scoopy cream-nya. Senja itu kami berencana untuk pergi ke Malang (awalnya) untuk berlibur sebentar, melepas penat setelah lelah kuliah berminggu-minggu. Kami baru sampai di kota Malang saat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Angin malam kota Apel ini berhasil menusuk-nusuk kulitku, dingin. Kami pun menginap semalam di sebuah homestay yang aku udah lupa dimana dan apa nama tempatnya untuk sekedar numpang tidur. Pagi harinya, kami baru memikirkan destinasi kami. Tapi karena Bayu sore itu ada rencana untuk mengantar temannya ke bandara dan Huda juga ada undangan nikah temannya, maka kita memutuskan jalan ke tempat yang dekat-dekat aja. Maka menujulah kami sebuah kota yang terletak 15 km sebelah barat laut kota Malang, yakni Kota Batu.

RABBIT SATAY
Modifikasi : Ngalam.co
Pagi itu perut kami sudah keroncongan karena lapar. Aku sempat mengusung ide untuk makan nasi kuning ala-ala Samarinda yang konon ada di Malang, tapi ketika kami sampai di tempat, ternyata si nasi kuning sudah habis. Akhirnya Huda memimpin jalan untuk segera menuju ke Batu dan berhenti di sebuah tempat makan bernama Lesehan Sate Kelinci Batu (Nama di Google Maps: Rabbit Satay) yang terletak di Jalan Patimura Nomor 126, Batu.



Tempat makan ini mengusung dua konsep, lesehan dan non-lesehan. Nggak ada yang istimewa dari konsep non-lesehatan, hanya tampak seperti tempat makan biasa. Berbanding terbalik dari konsep lesehan yang terlihat di nyaman dan asri karena dibuat seperti pendopo dan berada di tepi-tepi taman. Yakinlah, kalau berada di lesehan ini pasti bawaannya pengen ngadem apalagi ditambah cuaca Batu yang dingin seperti sikap pacar yang sudah bertahun-tahun pacaran.

Modifikasi dari : Love in Every Bite Size Blog
Sesuai dengan namanya, salah satu menu yang istimewa disini adalah sate kelincinya. Tapi berhubung aku nggak terlalu familiar dengan sate kelinci, jadi akhirnya aku hanya memesan ayam bakar. Meski begitu, aku juga sempat nyicipin sate kelincinya Huda yang ternyata setelah diicip-icip, rasanya nggak jauh beda dari sate ayam. Jadi kapan-kapan boleh deh dicoba.

PARALAYANG


Setelah puas mengisi perut, kami pun kembali berangkat untuk bertamasya. Kali ini kami menuju ke sebuah tempat di daerah Gunung Banyak, yakni Paralayang. Sebuah tempat yang konon katanya bisa melihat kota Batu dari ketinggian 1.300 mdpl. Di perjalanan, kami melewati tanjakan-tanjakan yang terus meninggi. Hingga sampai di kaki Gunung Banyak, kami di palak minta untuk membayar tiket seharga 10.000/orang. Setelah itu, kami masih harus terus menarik gas motor kami hingga sampai ke puncak Paralayang yang terletak di Songgokerto, Batu ini.


Sampai di area Paralayang, pemandangan kota Batu terhampar luas di hadapan kami. Petak-petak hijau persawahan dan bangunan-bangunan perumahan tampak indah dari atas sini. Meski matahari mulai terik, tak melunturkan minat kami untuk berfoto-foto di tempat yang buka 24 jam ini.

Modifikasi dari ireztia room
Selain itu, di puncak ujung Paralayang tampak beberapa orang bergerumbul untuk mengantri giliran untuk mencoba olahraga paralayang, dimana kita dapat terjun bebas menggunakan parasut dari atas sini menuju ke bawah, dan tentu di bawah pengawasan tim yang profesional. Namun untuk dapat menaiki paralayang ini, kita harus merogoh kocek lebih dalam sedikit karena wahana ini menggunakan paketan sebagai produknya, dimana setiap paketnya dipatok dari 350.000 – 500.000/paket. Untuk lebih lengkapnya bisa cek di sini.

Omah Kayu ‘Not Just Tree House

Modifikasi dari Sporturism
Masih di area Gunung Banyak, disini ada sebuah area yang terletak di pinggir lereng bukit yang di tumbuhi oleh pohon-pohon tinggi dan diantaranya di bangun beberapa rumah kayu yang unik berukuran sekitar 3 m x 2 m x 2 m, bernama Omah Kayu. Sesuai dengan tagline-nya ‘Not Just Tree House’, di tempat ini kami menemukan beberapa unit rumah yang dibuat dari kayu yang menghadap persis ke arah hamparan pemandangan kota Batu dari ketinggian 1.340 mdpl. Wow banget nggak sih?

Untuk bisa masuk ke area ini, kami hanya perlu membayar sebesar 5.000/orang. Selain rumah-rumah kayu, di tempat ini juga dibuat beberapa pendopo yang biasanya juga digunakan sebagai spot poto oleh pengunjung. Dan tentu, untuk bisa berpoto-poto di tempat ini, kami harus mengantri karena banyak sekali pengunjung yang ingin berpoto di tempat ini. 

Jangan yang panas ya, gengs
Tempat ini buka dari jam 09.00 sampai 17.00 WIB. Tapi jika kamu masih betah memandangi hamparan keindahan kota Batu, kamu juga bisa memesan kamar di unit rumah tersebut untuk menginap. Rumah ini tampaknya cukup nyaman untuk di tempati 2 sampai 3 orang. Untuk memesannya, kamu hanya perlu menyiapkan uang 350.000 (weekday) – 450.000 (weekend). 

SELECTA

Puas menatap keindahan kota Batu dari ketinggian, kini kami beralih ke destinasi terakhir kami yang jatuh pada wisata Selecta. Aku sendiri awalnya nggak paham ini tempat apa, karena aku mah mau-mau aja diajak kemana-mana, asalkan buat orang baik-baik. Pasang muka polos. Untuk memasuki area Selecta yang terletak di Desa Tulungreji Batu ini, kita hanya perlu membayar sebesar 25.000/orang.  Dan dari tiket yang diberikan, kita sudah bisa melihat adanya taman bunga dan kolam renang yang begitu menggiurkan.

Saat memasuki area masuk, kami sudah disambut dengan gerbang berbentuk hati yang berhiaskan bunga-bunga berwarna merah, dan kemudian dimanjakan dengan taman yang dilengkapi dengan aquarium yang berisikan ikan-ikan besar. Dari pintu masuk ini aku udah yakin kalau anak-anak pasti suka dibawa ke tempat ini, meski pun aku belum punya anak. Setelah melewati aquarium, kami menemukan sebuah kolam besar yang sepertinya sangat asik buat dinikmati, sampai-sampai aku merasa pengen banget ikutan nyebur. Tapi karena nggak bawa baju ganti dan waktu kami berjalan-jalan hanya sedikit, jadi kami pun hanya numpang lewat menuju ke inti dari Selecta yang berada di balik kolam renang ini.

Hamparan lautan bunga menyejukkan mata kami saat memasuki area taman bunga wisata ini. Aku kegirangan melihat bunga-bunga yang begitu banyak juga cantik-cantik. Ini pertama kalinya aku lihat bunga sebanyak ini selain, di tempat orang-orang yang jual bunga atau di pemisah jalur jalanan Surabaya. Kami berempat pun segera mencari tempat duduk untuk rehat sejenak. Saat itu kami duduk di dekat wahana Sky Bike. Jadi, Sky Bike ini sebuah wahana berbayar (kalau tidak salah 20.000/sepeda bisa untuk 2 orang) dimana kita bisa mengendarai sepeda bundar di atas langit sambil melihat pemandangan bunga yang terhampar di bawah kita. Asik banget ya kayanya? Sampai-sampai aku nggak tertarik naik karena liat antriannya yang panjang.

Maafkan bedak dan lipstik yang sudah luntur.
Setelah puas duduk-duduk sebentar, aku dan Ana pun segera memanfaatkan waktu yang tersisa untuk berkeliling di taman ini meninggalkan dua cowok-cowok yang mukanya mulai kusut dan lebih tertarik buat mainin handphone daripada jalan-jalan. Sejauh mata memandang, tempat ini dipenuhi oleh bunga-bunga dan juga orang-orang yang sibuk berfoto. Selain itu, dari kejauhan juga terlihat ada beberapa patung-patung dinosaurus raksasa disebar di beberapa titik yang menambah spot selfie menarik di tempat ini. Nggak membuang-buang waktu, aku dan Ana pun segera mengabadikan moment kami masing-masing.

Buat aku ini tempat lebih dari worth it untuk harga tiket yang hanya 25.000. Semoga saja setelah aku bilang ini, harganya nggak dinaikin. Apalagi banyak sekali wahana gratis yang di tawarkan di tempat yang buka setiap hari dari jam 06.00 sampai 18. WIB ini, termasuk kolam renangnya. Nggak heran jika Selecta selalu dikerumi oleh pengunjung yang nggak ada habis-habisnya. 

Waktu sudah menunjukkan tengah hari kala Aku dan Ana kembali menyusul Huda dan Bayu ke tempat mereka menyibukkan diri untuk bermain handphone. Karena hari sudah siang dan Bayu harus kembali mengejar waktu ke Surabaya, akhirnya aku dan Bayu pun memisahkan diri disini untuk kembali ke kota api yang panas sepanas persaingan Baim Wong dan Indra Herlambang untuk menjadi presiden Jomblo.

Sampai sini dulu ya cerita jalan-jalannya. Sampai jumpa di tempat selanjutnya!

You Might Also Like

0 komentar